Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Kalender Tanam
Info Pasar
Sinar Tani
Ulat Bulu
E-Produk
Hasil Lipi
Bank Padi
Layanan Online Alsin
phsl
Budidaya Konservasi Pada Tanaman Gambir PDF Cetak E-mail
Oleh Ridwan   
Senin, 05 Maret 2012 08:40

Oleh : Ir. Ridwan MS*

Gambir merupakan salah satu komoditaas perkebunan spesifik Sumatera Barat.  Lebih dari 80% produksi dan ekspor gambir Indonesia berasal dari Sumatera Barat. Namun demikian belum mampu mengangkat kesejahteraan petani gambir. Permasalahannya karena produktivitas dan kualitas gambir yang dihasilkan oleh petani masih rendah, karena teknik budidaya dan pengolahan hasil yang dilakukan umumnya masih sederhana.

Di daerah-daerah sentra produksi gambir, penanaman pada umumnya dilakukan pada lahan yang bergelombang sampai berbukit dengan pengelolaan yang sangat sederhana. Penampilan tanaman pada suatu hamparan tidak seragam, ada yang sudah berumur lanjut sekitar 50 tahun dan ada pula yang baru ditanami. Hal ini juga mengakibatkan hasil panenan daun tidak seragam, tentu akan berpengaruh terhadap hasil dan kualitas hasil. Sampai saat ini produktivitas gambir yang dihasilkan oleh rakyat masih tergolong rendah yaitu sekitar 400-600 kg getah kering/ha. Disamping produktivitas yang masih rendah, mutu gambir yang dijual atau yang diekspor juga masih rendah, sehingga negara-negara pengimpor melakukan pengolahan lebih lanjut, akhirnya nilai tambah yang cukup besar dinikmati oleh negara-negara pengimpor.

 

PENGEMBANGAN KOMODITAS GAMBIR DAN ASPEK LINGKUNGAN

Di Sumatera Barat usaha pengembangan komoditas gambir yang berhubungan dengan aspek lingkungan hal ini belum banyak mendapat perhatian dari berbagai pihak. Diketahui bahwa petani kita sudah terbiasa menanam gambir ditempat-tempat yang berlereng yang pada hakekatnya merupakan kawasan hutan atau penyangga. Kawasan penanaman gambir tersebut pada dasarnya merupakan lahan marginal yang miring dengan reaksi masam, kesuburan fisik dan kimia sangat rendah, solum dangkal dan rentan terhadap erosi karena memiliki erodibilitas tinggi.

Ditinjau dari faktor iklim, curah hujan di wilayah barat Pulau Sumatera cukup tinggi. Budidaya gambir pada daerah ini belum mengikuti kaedah-kaedah konservasi lahan, akan mengancam munculnya lahan kritis baik pada bagian hulu maupun bagian hilir aliran sungai. Keadaan semakin diperparah oleh kebiasaan petani menggunakan kayu sebagai bahan bakar dalam pengolahan hasil gambir sehingga juga dapat mengancam kerusakan lingkungan hutan.

Dari segi budidaya penanaman gambir pada lahan yang berfotografi tidak datar atau berlereng belum mengikuti kaedah-kaedah konservasi, dimana system jarak tanam yang dipakai tidak beraturan dan tidak mengikuti baris kontur. Pola tanamnya secara monokultur. System budidaya yang semacam ini akan memberi peluang terjadinya erosi yang dapat merusaka lingkungan sekitarnya.

 

BUDIDAYA KONSERVASI

Usaha pengembangan komoditas gambir pada lahan yang mempunyai tingkat kemiringan tinggi perlu penerapan teknologi budidaya konservasi:

Pembuatan Teras

Pembuatan lahan untuk penanaman gambir pada awalnya banyak menimbulkan bahaya erosi, karena permukaan bebas dari vegetasi. Untuk mengurangi terjadinya erosi sebelum tanam dibuat teras menurut baris kontur guna memperlambat laju erosi.

Pengaturan sistem jarak tanam menurut baris kontur.

Penanaman menurut baris kontur juga merupakan salah satu cara untuk mengurangi erosi, tanam menurut baris kontur kelak akan membentuk teras alami yang sangat efektif untuk mengurangi erosi permukaan. Material-material yang terbawa oleh aliran permukaan akan tertahan pada barisan tanaman sehingga membentuk lapisan yang lebih tebal membentuk teras.

Intercropping

Intercropping gambir dan komoditas lain yang mempunyai system penakaran dalam dapat dimanfaatkan sebagai penyangga-penyangga erosi. Tanaman yang dimanfaatkan sebagai penyangga erosi adalah tanaman yang dapat memberikan hasil tambahan antara lain, petai, jengkol dan lain-lain. Serta tanaman yang tidak menganggu pertumbuhan tanaman gambir. Tajuk tanaman tidak terlalu lebar sehingga intensitas cahaya banyak terhalang.

Penerapan tekonologi budidaya konservasi ini sebagian besar hanya dapat dilakukan pada pertanaman awal karena semua dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Sedangkan pada pertanaman yang sudah ada, tindak konservasi tidak banyak yang bisa dilakukan karena kondisi lingkungan sudah terbentuk sebelumnya. (*Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Sumatera Barat)

LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com