Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Ulat Bulu
Kalender Tanam
Hasil Lipi
Bank Padi
Sinar Tani
E-Produk
Layanan Online Alsin
phsl
Info Pasar
Kota Padang PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Kamis, 13 Maret 2008 18:30

Lokasi Prima Tani Kota Padang terletak di Kelurahan Lubuk Minturun Sungai Lareh, 15 km dari Ibukota Padang dan 16 km dari Ibukota Provinsi Sumatera Barat. Kelurahan ini berada pada ketinggian 30-105 m di atas permukaan laut dengan topografi datar sampai berbukit. Curah hujan rata-rata 349 mm/bulan. Jenis tanah dominan adalah Typic Endoaquepts dengan tingkat kesuburan sedang sampai subur.

Di Kelurahan Lubuk Minturun Sungai Lareh terdapat lahan kering 4.251 hektar (73%), lahan pemukiman dan pekarangan 1.260 hektar (21,9%) dan lahan sawah 239 hektar, sebagian besar berupa sawah tadah hujan. Pada musim hujan lahan sawah umumnya ditanami padi, sedangkan pada musim kemarau ditanami sayuran dan palawija seperti mentimun dan jagung. Lahan pekarangan sebagian besar dimanfaatkan untuk usaha pembibitan tanaman hias, tanaman buah-buahan dan pemeliharaan ternak, sedangkan lahan kering sebagian dimanfaatkan untuk pertanaman buah-buahan dan tanaman perkebunan.


Penduduk berjumlah 6.518 orang yang terdiri dari 3.218 orang laki-laki dan 3.300 orang perempuan. Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar penduduk tidak tamat SD. Menurut mata pencahariannya, sebagian besar dari angkatan kerja (61,3%) atau 451 KK merupakan petani, selebihnya bekerja sebagai PNS, ABRI/Polri, swasta, pensiunan dan tukang.

Kelembagaan agribisnis dan pendukung yang ada saat ini adalah kios saprotan 3 buah, kelompok tani 12 buah namun yang aktif hanya 6 buah, lembaga pascapanen (RMU) 3 buah, lembaga pengolahan hasil 10 buah, lembaga pemasaran, lembaga pembibitan 2 buah, dan Gapoktan.

Terdapat enam komoditas utama yang diusahakan petani di Kelurahan Lubuk Minturun Sungai Lareh, yaitu pembibitan tanaman hias, pembibitan buah-buahan, usahatani sayuran, ternak sapi, padi sawah dan kakao. Masalah yang dihadapi petani tanaman hias adalah mahalnya harga pohon induk dan serangan hama kutu putih. Oleh karena itu ke depan teknologi yang dikembangkan untuk usaha pembibitan tanaman hias adalah introduksi varietas unggul tanaman hias dataran rendah dan teknologi pengendalian hama/penyakit. Untuk usaha pembibitan buah-buahan telah dilakukan introduksi bibit unggul dan beberapa jenis buah-buahan unggul baru, seperti belimbing, anggur dataran rendah, dan jambu Bangkok merah, bekerjasama dengan UPTD Perbenihan Kota Padang.

Usahatani mentimun dilakukan petani setelah padi. Varietas yang ditanam adalah varietas lokal dengan produktivitas 7,5 t/ha. Yang menarik dari polatanam padi sawah-mentimun di sini adalah adanya pemanfaatan residu pupuk dari tanaman sayuran untuk tanaman padi, sehingga pada waktu menanam padi petani tidak lagi melakukan pemupukan secara optimal.

Harga jual mentimun sangat fluktuatif, berkisar Rp. 40.000 -80.000 per karung. Keadaan demikian tentu tidak menguntungkan petani, karena itu dilakukanlah introduksi teknologi pengolahan buah mentimun menjadi minuman jelly. Diharapkan, berkembangnya pengolahan jelly dapat menampung hasil panen petani.

Teknologi budidaya sapi masih belum optimal, masih merupakan usaha sampingan, sehingga belum memberikan dampak yang berarti terhadap pendapatan keluarga. Untuk itu dilakukanlah introduksi teknologi pengembangan ternak melalui pelatihan dan Gelar Teknologi keliling.

Varietas padi yang banyak ditanam oleh petani adalah IR42, Cisokan dan Batang Piaman. Tingkat produktivitas beragam, rata-rata 3,6 t/ha. Pemupukan belum optimal dan PHT belum diterapkan. Jerami umumnya dibakar dan belum dimanfaatkan, baik sebagai pupuk maupun sebagai pakan ternak. Untuk itu telah dilakukan pelatihan PTT padi sawah dan pembuatan pupuk organik dari jerami padi.

Tanaman kakao mulai dikembangkan di Kelurahan Lubuk Minturun Sungai Lareh tahun 2005. Luasnya diperkirakan mencapai 25 hektar. Sebagian besar petani kakao belum melakukan pemeliharaan tanaman secara intensif, sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal. Untuk mencapai hasil yang optimal dilakukan introduksi bibit unggul, pemupukan berimbang, pemangkasan, dan penerapan PHT.

LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com