Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Kalender Tanam
Info Pasar
Sinar Tani
Ulat Bulu
E-Produk
Hasil Lipi
Bank Padi
Layanan Online Alsin
phsl
Model Pendampingan SL-PTT Di Sumatera Barat PDF Cetak E-mail
Oleh Nusyirwan Hasan   
Kamis, 12 Agustus 2010 10:52
Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi tanaman pangan, khususnya produksi padi, jagung, kedelai dan kacang tanah. Pada tahun 2010 produksi padi ditargetkan 65,1 juta ton atau meningkat 5%, produksi jagung 19.8 juta ton, dan produksi kedelai 1,1 juta ton dengan target swasembada pada tahun 2014.

Untuk mencapai peningkatan produktivitas padi, jagung, kedelai dan kacang tanah, Deptan melaksanakan program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT), yaitu salah satu strategi yang diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap peningkatan produksi padi, jagung, kedelai dan kacang tanah nasional.

Di Sumatera Barat kegiatan Sekolah Lapang (SL) padi sawah telah mulai dilaksanakan pada tahun 2008 dengan menggunakan teknologi PTS. Untuk tahun 2010 dilaksanakan SL-PTT yang terdiri dari SL-PTT padi sawah sebanyak 3.280 unit (82.000 ha) pada 17 kabupaten/kota, SL-PTT padi lahan kering sebanyak 400 unit (10.000 ha) pada 7 kabupaten, SL-PTT jagung hibrida sebanyak 138 unit (2.070 ha) dan kedelai sebanyak 100 unit (1.000 ha) masing-masing pada 5 kabupaten, dan SL-PTT kacang tanah sebanyak 400 unit (4.000 ha) dilaksanakan pada 6 kabupaten. Pengawalan teknologi pelaksanaan SL-PTT tersebut dilaksanakan oleh BPTP Sumatera Barat, mulai dari pra panen sampai pasca panen.

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan suatu pendekatan inovatif dan dinamis dalam upaya peningkatan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan komponen teknologi secara partisipatif bersama petani. PTT dikembangkan berdasarkan pengalaman implementasi pada beberapa lokasi di Indonesia. Penerapan PTT padi sawah dengan menggunakan varietas unggul pada beberapa daerah dan tingkat usahatani telah menunjukkan terjadinya peningkatan produksi padi sebesar 37 % pada skala penelitian, 27 % pada skala pengkajian dan 16 % pada tingkat petani. Di Sumbar, ujicoba PTT padi sawah yang dilaksanakan sejak tahun 2001-2008 pada hampir semua daerah sentra produksi padi yaitu Kabupaten Solok, Padang Pariaman, Tanah Datar, Agam, Sijunjung, Limapuluh Kota, Solok Selatan, Pesisir Selatan dan Kota Padang telah memberikan peningkatan produksi yang tinggi, yaitu sebesar 9,8 – 56,6 %.

Prinsip utama penerapan PTT adalah: (1) Partisipatif, petani berperan aktif dalam pemilihan dan pengujian teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat, serta meningkatkan kemampuan petani melalui proses pembelajaran di Laboratorium Lapangan (LL); (2) Spesifik Lokasi, memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik, sosial-budaya dan ekonomi petani setempat, (3) Terpadu, dalam implementasinya di lapangan, PTT mengintegrasikan sumberdaya tanaman, tanah, air, Organisasi Pengganggu Tanaman (OPT) dan iklim dengan baik dan terpadu untuk mendukung peningkatan produktivitas lahan dan tanaman sehingga dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi petani, (4) Sinergis, pemanfaatan teknologi terbaik, memperhatikan keterkaitan antar komponen teknologi yang saling mendukung, dan (5) Dinamis, PTT bersifat dinamis karena selalu mengikuti perkembangan teknologi dan penerapannya disesuaikan dengan keinginan dan pilihan petani. Oleh karena itu, PTT selalu disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan IPTEK serta kondisi sosial-ekonomi setempat.

SL-PTT adalah bentuk sekolah yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilakukan di lapangan. Hamparan sawah milik petani peserta program penerapan PTT disebut hamparan SL-PTT, sedangkan hamparan sawah tempat praktek sekolah lapang disebut Laboratorium Lapang (LL). Satu unit SL-PTT padi sawah dilaksanakan pada hamparan lahan sawah seluas 25 ha, 24 ha diantaranya untuk SL-PTT dan 1 ha untuk LL. Sekolah lapang seolah-olah menjadikan petani peserta sebagai murid dan pemandu lapang (PL I atau PL II) sebagai guru. Namun sebenarnya pada sekolah lapang tidak dibedakan antara guru dan murid, karena aspek kekeluargaan lebih diutamakan, sehingga antara “guru dan murid ” saling memberi pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman.

Dalam pelaksanaan SL-PTT, model dukungan Badan Litbang Pertanian yang dilakukan adalah dengan mensinergikan dan mengintegrasikan berbagai kegiatan Unit Kerja atau Unit Pelaksana Teknis (UK/UPT) yang mempunyai tupoksi penyediaan inovasi teknologi tanaman pangan dalam upaya peningkatan dan percepatan produktivitas padi, jagung, kedelai dan kacang tanah seperti: Puslitbangtan, BBSDL, BB Padi, BBP2TP, Balit Kabi, dan Balit Sereal.

BPTP Sumbar dalam pendampingan pelaksanaan SL-PTT di Sumatera Barat selain melakukan pengawalan teknologi, juga melaksanakan demplot pada setiap lokasi Laboratorium Lapangan SL-PTT. Pada tahun 2010 akan dilaksanakan 1.920 unit demplot varietas unggul padi sawah inbrida pada 16 kabupaten/kota, 80 unit demplot varietas unggul jagung hibrida pada 5 kabupaten, 60 unit demplot varietas unggul kedelai pada 5 kabupaten dan 120 unit demplot varietas unggul kacang tanah pada 6 kabupaten. Setiap unit demplot PTT padi sawah inbrida dilaksanakan pada luasan 0,25 ha dengan menguji 4 varietas unggul nasional dan unggul lokal sesuai dengan keinginan dari Pemda kabupaten/kota. Untuk PTT jagung setiap unitnya dilaksanakan dengan luasan 0,2 ha dengan menguji 3 varietas jagung hibrida, PTT kedelai dilaksanakan pada luasan 0,1 ha dengan menguji 3 varietas unggul kedelai serta untuk kacang tanah dilaksanakan dengan luasan 0,1 ha dengan menguji 3 varietas unggul nasional serta varietas lokal Sumbar.

Tugas BPTP Sumatera Barat dalam pendampingan SL-PTT adalah: (1) Melaksanakan sosialisasi dan koordinasi kegiatan SL-PTT dengan Dinas terkait dan Pemda kabupaten/kota; (2) Mendistribusikan benih ke lokasi SL-PTT untuk demplot di lokasi LL sesuai musim tanam setempat; (3) Melakukan pengawalan dan pengamatan pada kegiatan demplot uji varietas pada LL dan IP 400 serta melaporkan perkembangannya ke BBP2TP; (4) Menyiapkan, mencetak, mendistribusikan materi pelatihan yang berupa bahan cetakan kepada seluruh BPP, Penyuluh Pendamping dan Gapoktan di lokasi SLPTT; (5) Melakukan pelatihan internal tenaga pendamping (peneliti, penyuluh, teknisi, dan tenaga lain yang direkrut oleh BPTP Sumatera Barat); (6) Menjadi nara sumber dalam setiap pertemuan kelompok SL, termasuk di dalamnya melakukan pelatihan PTT.

Untuk melaksanakan kegiatan pendampingan SLPTT tersebut maka strategi yang akan dijalankan BPTP Sumbar adalah: (1) Membangun sinergisme dengan Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota, Bakorluh Provinsi dan Bapelluh Kabupaten/Kota, KCD/BPP di tingkat kecamatan untuk menggerakkan PPL/THL, (2) Membentuk LO (Liason Office) di tiap Kabupaten/Kota dan menunjuk peneliti/penyuluh BPTP Sumbar sebagai tenaga LO dengan POSKO di Kantor Dinas Pertanian atau Badan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten/Kota, (3) Membentuk Tim Pelaksana SLPTT dan POSKO di BPTP Sumatera Barat, serta (4) Mengintegrasikan pelaksanaan kegiatan PUAP dan FEATI dengan SL-PTT. Adapun tugas LO antara lain: (1) Melakukan koordinasi dengan Pemda dalam pelaksanaan SL-PTT (CP/CL, KKP, Waktu Tanam, dll); (2) Melakukan introduksi inovasi teknologi ke GAPOKTAN dalam penyusunan RUB berdasarkan potensi analisis wilayah; (2) Berkoordinasi secara berkelanjutan dengan PMT, PPL, PHP dan GAPOKTAN dalam pelaksanaan demplot; (3) Mendistribusikan materi diseminasi untuk BPP, GAPOKTAN, dan lainnya; (4) Sebagai narasumber inovasi teknologi dan inovasi lainnya sesuai yang dibutuhkan oleh GAPOKTAN; (5) Mengkoordinir semua kegiatan lapangan pelaksanaan SL-PTT di kabupaten/kota bersangkutan; (6) Mencatat dan melaporkan semua aktifitas demplot di LL dan atau lokasi SL-PTT; (6) Di dalam pelaksanaan tugas LO dibantu oleh beberapa orang peneliti/penyuluh BPTP, PPL dan PMT di lokasi demplot. Sedangkan tugas Tim Pelaksana SL-PTT adalah: (1) Merancang, merencanakan, mengarahkan dan melaksanakan pengendalian dalam pelaksanaan SL-PTT; (2) Menyusun petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan SL-PTT spesifik lokasi; (3) Melakukan sosialisasi dan koordinasi pelaksanaan SL-PTT dengan Dinas terkait tingkat provinsi dan kabupaten/kota; (4) Membantu mekanisme distribusi benih dari BB Padi/Balit lingkup Puslitbangtan ke lokasi pelaksanaan SL-PTT. Suksesnya pelaksanaan SL-PTT yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan yang sekaligus juga meningkatkan pendapatan petani, sangat tergantung pada dukungan semua pihak, termasuk pemangku kepentingan baik di hulu, onfarm, maupun hilir, serta pelaksanaan yang terkoordinasi secara sinkron dan sinergis di setiap tingkat. (Nusyirwan Hasan dan Rifda Roswita)
LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com