Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Pesisir Selatan Berpeluang Kembangkan Semangka Setelah Padi Sawah PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Kamis, 29 Juli 2010 11:18
budidaya semangkaRelatif singkatnya umur tanaman semangka (60-75 hari) memberikan peluang besar untuk dikembangkan terutama pada lahan sawah tadah hujan setelah panen padi sawah. Komoditas ini dapat dijadikan sebagai rotasi dengan tanaman pokok (padi sawah), dan telah terbukti memberikan nilai tambah yang cukup besar.

Kebijakan pemerintah dalam pengembangan tanaman hortikultura bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani, pemenuhan gizi, peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi baru bidang hortikultura, dan upaya mencukupi kebutuhan hortikultura di dalam negeri, serta meningkatkan ekspor. Untuk menopang kebijakan tersebut, salah satunya melalui pengembangan komoditas semangka pada wilayah-wilayah potensial atau sentra produksi. Di Indonesia, wilayah tersebut ditemui mulai dari Indonesia Bagian Barat sampai Bagian Timur, seperti: Pancur Batu (Propinsi NAD), Deli Serdang (Propinsi Sumatera Utara), Siak Hulu Kampar (Kabupaten Riau), dan Pesisir Selatan (Kabupaten Sumatera Barat). Pada daerah tersebut, penanaman semangka setelah padi sawah terutama pada lahan sawah tadah hujan mampu memberikan nilai tambah yang cukup besar terutama bagi petani yang hanya menanam padi saja.

Khususnya Surantih dan umumnya Kabupaten Pesisir Selatan merupakan daerah yang sangat cocok untuk pertanaman semangka. Komoditas semangka merupakan tanaman dataran rendah dengan ketinggian tempat yang disukai 0-400 m di atas permukaan laut dan suhu berkisar 25-30oC serta curah hujan rendah (120-150 mm/musim). Kondisi ini sangat sesuai untuk membudidayakan tanaman semangka. Apalagi di Surantih memiliki lahan sawah tadah hujan seluas 1.333 ha dan Kabupaten Pesisir Selatan mencapai 29.672 ha. Umumnya lahan ini memiliki produktivitas rendah dengan hasil padi sawah rendah, hanya berkisar 2,0-2,5 t/ha dengan penanaman padi sekali dalam setahun yang disebabkan air irigasi tidak mencukupi sehingga lahan menjadi bera. Agar pendapatan petani meningkat, seyogyanya lahan ini dapat dimanfaatkan dengan penanaman semangka setelah panen padi sawah.

BUDIDAYA SEMANGKA DI TINGKAT PETANI

Umumnya petani di Kabupaten Pesisir Selatan bertanam semangka pada lahan sawah tadah hujan setelah panen padi sawah, seperti di Balai Selasa, Kambang, Bayang, dan Tarusan. Namun sebagian besar dari mereka masih membudidayakan tanaman semangka secara tradisional tanpa mengaplikasi teknologi yang tepat dan benar. Petani hanya melakukan pembabatan batang jerami padi dan pembuatan saluran drainase setelah panen padi sawah. Setelah lahan sawah mulai kering, dibuat lubang tanam dengan diameter 30-50 cm dan ke dalam lubang tanam tersebut dimasukkan pupuk kandang secukupnya lalu ditutupi dengan jerami padi. Jerami padi berfungsi sebagai mulsa sekaligus alas tempat buah semangka sehingga buah yang dihasilkan cukup bersih dan tidak langsung berada di atas permukaan tanah.

Dibanding dengan teknologi petani di daerah pulau Jawa, teknologi petani di Kabupaten Pesisir Selatan masih sangat sederhana. Di pulau Jawa, petani sudah menerapkan teknologi mulsa plastik hitam perak (MPHP) dan semangka non biji dengan sistem turus atau junjungan/para terutama pada lahan-lahan sempit.

TEKNOLOGI BUDIDAYA SEMANGKA

Teknologi budidaya semangka yang diperkenalkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat pada tahun 2007 (Juli sampai Agustus) dilaksanakan di Surantih pada lahan sawah tadah hujan seluas 0,25 ha. Teknologi yang diintroduksikan adalah: (a) Benih semangka berbiji New Dragon asal Taiwan yang beradaptasi baik pada berbagai jenis tanah dan tahan penyakit layu Fusarium; (b) Lahan disiapkan dengan cara pembabatan batang jerami padi dan pembuatan saluran drainase; (c) Setelah lahan mulai mengering, dibuat lubang tanam ukuran 40x40 cm dan dicangkul sedalam 30 cm serta digemburkan; (d) Ke dalam lubang tanam dimasukkan pupuk kandang (500 kg/ha) dan abu sekam yang diaduk dengan tanah secara merata dan ditinggikan dari permukaan tanah sekitar 20-30 cm; (e) Benih semangka ditanam sebanyak 2 biji/lubang dengan jarak tanam 2,5x3,0 m; (f) Pupuk organik diberikan sebanyak 250 kg Urea, 100 kg SP36, 100 kg KCl, 100 kg NPK dan 500 kg kapur per hektar; dan (g) Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menerapkan konsep pengendalian hama terpadu (PHT) yakni penyemprotan pestisida kimia dilakukan bila kerusakan tanaman atau tingkat serangan telah mencapai ambang kerusakan ekonomi.

Tabel 1. Analisa usahatani tanaman semangka (1 ha) di Surantih Kabupaten pesisir Selatan pada MK 2007.

Uraian
Volume
Jumlah (Rp)
Pengeluaran


Sewa lahan
Kontrak
600.000
Upah pengolah tanah
Borongan
800.000
Upah pembuatan bedengan /drainase
10 hok
300.000
Upah pendapatan lobang tanam
4 hok
120.000
Upah penebaran mulsa jerami
4 hok
120.000
Upah tanam
6 hok
180.000
Upah pemupukan
6 hok
180.000
Upah penyemprotan
4 hok
120.000
Upah penyiangan
4 hok
120.000
Upah penyemprotan
4 hok
120.000
Upah panen
4 hok
120.000
Pupuk kandang
500 kg
50.000
Urea
250 kg
400.000
SP - 36
100 kg
300.000
KCl
100 kg
300.000
NPK
100 kg
450.000
Pestisida
6 botol
240.000
Benih
8 pak
200.000
Total pengeluaran

4.720.000
Total Penerimaan
6.200 kg x Rp.1.000
6.200.000
Keuntungan

1.480.000
R/C Ratio

1.3

Keuntungan yang diperoleh petani dalam usahatani semangka di lahan sawah tadah hujan setelah padi sawah adalah Rp.1.480.000,- (Tabel 1). Rinciannya adalah: hasil panen buah yang diperoleh sebanyak 6.200 kg/ha dengan harga jual rata-rata Rp.1.000,- (harga di lahan tanam) sehingga diperoleh penerimaan sebesar Rp.6.200.000,-; dan biaya yang dikeluarkan meliputi sewa lahan, pengolahan tanah sampai tanam, pemeliharan, dan sarana produksi dengan jumlah mencapai Rp.4.720.000,-. Keuntungan rata-rata petani per hari per hektar bila mengusahakan tanaman semangka selama 60 hari adalah Rp.24.666,-. Keuntungan ini akan bertambah lagi bila lahan yang diusahakan adalah milik petani itu sendiri (tidak disewa) dan memperhitungkan saat panen (sebaiknya bertepatan dengan bulan puasa atau hari raya idul fitri karena harga lebih tinggi). Kondisi ini sangat membantu dalam peningkatan kesejahteraan petani, terutama bagi petani yang tidak mempunyai pekerjaan lain selain bertani. Disamping itu, lahan yang biasanya diberakan dapat dimanfaatkan untuk budidaya semangka.
LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com