Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Bank Padi
Layanan Online Alsin
phsl
Kalender Tanam
Info Pasar
Sinar Tani
Ulat Bulu
E-Produk
Hasil Lipi
PTT Kedelai Meningkatkan Pendapatan Petani di Lahan Sawah Tadah Hujan PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Selasa, 18 Mei 2010 14:48
Meningkatnya kebutuhan kedelai dari tahun ketahun, menempatkan posisi komoditi ini sebagai pangan strategis setelah padi dan jagung. Peningkatan ini seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan perkembangan industri pengolahan kedelai seperti tempe, tahu, kecap, touco serta susu kedelai dan lain- lain.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut tidak kurang dari dua juta ton harus tersedia setiap tahun. Pada hal produksi dalam negeri baru sekitar 700 ribu ton per tahun . Dari data Badan Litbang Pertanian tahun 2008, import kedelai mencapai 1,3 juta ton, angka ini jauh melebihi total produksi nasional. Untuk mengurangi ketergantungan kedelai dari negeri Paman Syam ini maka harus dilakukan perbaikan ternologi budidaya, perluasan areal tanam serta pengembangan varietas unggul dengan potensi hasil tinggi.
Pengembangan dilahan sawah Tadah Hujan.
Lahan sawah tadah hujan merupakan sumberdaya yang sangat potensial untuk pengembangan kedelai., karena sebagian besar diantaranya belum dimanfaatkan secara optimal biasannya hanya ditanami padi sekali dalam setahun, kemudian diberakan sampai datang musim hujan berikutnya. Di Sumatera Barat terdapat lahan sawah tadah hujan seluas 48,776 Ha yang tersebar di kabupaten dan kota, dari luas tersebut hanya sebagian kecil saja yang telah dimanfaatkan secara optimal, kondisi seperti ini tentu sangat berpeluang untuk ditanami dengan kedelai sesudah padiapalagi harga kedelai dipasaran cukup mengembirakan.
Menanam kedelai sesudah padi dilahan sawah tadah hujan memiliki beberapa keuntungan seperti ; hemat biaya, tenaga dan waktu. Karena persiapan lahan dilakukan dengan sistim TOT (Tanpa Olah Tanah) selain itu pertumbuhan gulma tidak seberat di lahan kering sehingga penyiangan dapat dilakukan sekali saja selama masa pertumbuhan tanaman. Sedangkan apabila lahan sawah tadah hujan diolah sempurna (OTS) justru kurang menguntungkan akibat terjadi penundaan waktu tanam, sehingga tanah akan kehilangan air, Dengan sistem OTS ini permukaan tanah menjadi terbuka yang menyebabkan evaporasi lebih besar, tapi yang tidak kalah penting adalah untuk memutuskan siklus hama penyakit, dan memanfaatkan sisa pupuk yang masih tertinggal dalam tanah serta menjadikan sisa tanaman kedelai sebagai pupuk hijau.
Penerapan Model PTT
PPT kedelai merupakan suatu pendekatan dalam usaha tani, agar teknologi yang diterapkan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat yang meliputi kondisi bio fisik lahan (tanah, iklim, ketersediaan air dan OPT) dan kondisi social ekonomi masyarakat serta status kelembagaan yang berhubungan dengan pembangunan pertanian.
Dari kajian yang telah dilakukan pada musim kering tahun 2008 dibeberapa lokasi seperti di Muaro Bodi Kabupaten Sijunjung ternyata cukup memberikan angina segar dalam pengembangan kedelai dimasa datang asalkan harga cukup stabil. Petani yang melaksanakan PTT kedelai, telah memperoleh hasil 2 ton/ha, sedangkan dengan cara biasa petani hanya mampu memproduksi 1,02 ton/ha. Jika harga kedelai Rp 6.000/kg maka petani yang menerapkan PTT akan memperoleh Rp 7.060.000,- dengan nilai R/C 2,43 tetapi dengan cara petani hanya diperleh Rp 2,620.000,-/ha.
Dengan dimulainya penanaman kedelai sesudah padi yang dibimbing BPTP Sumatera Barat melalui program PRIMA TANI cukup mendapat respon dari petani, terutama pada sawah yang selama ini sering gagal panen akibat tungro. Dengan menempatkan kedelai dalam satu pola tanam dilahan sawah merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat mengatasi hama penyakit serta membangkitkan gairah petani dalam bertanam kedelai. (Ridwan dan Zulrasdi)
LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com