Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Bank Padi
Layanan Online Alsin
phsl
Kalender Tanam
Info Pasar
Sinar Tani
Ulat Bulu
E-Produk
Hasil Lipi
Pengelolaan Dan Sistem Pola Tanam Jagung Pada Lahan Kering PDF Cetak E-mail
Di Sumatera Barat penanaman jagung pada lahan kering dapat dilakukan dua sampai tiga kali dalam setahun, dan intensitas tanam ini sangat tergantung pada jumlah dan distribusi curah sepanjang tahun. Usahatani jagung dilakukan secara monokultur dan intercropping denga tanaman tahunan seperti sawit, kelapa, kakao, pisang dan tanaman tahunan lainnya.
Pada saat ini pola tanam jagung secara monokultur pada lahan kering sudah berkurang karena areal penanaman jagung sudah banyak ditanami dengan tanaman tahunan yang mempunyai prospek yang lebih baik. Kondisi ini berdampak terhadap penurunan produksi dan produktivitas jagung pada masa yang akan datang. Salah satu contoh, di Kabupaten 50 Kota luas areal tanam dan areal panen serta produksi jagung setiap tahunnya tidak menunjukkan peningkatan, bahkan pada beberapa lokasi terjadi penurunan meskipun produktivitas sedikit meningkat. Terjadinya penurunan produksi jagung tidak hanya diakibatkan oleh luas areal tanam yang semakin sempit, tetapi juga akibat semakin meningkatnya usaha tani jagung panen muda yang dapat memberikan keuntungan yang lebih besar.
Untuk meningkatkan produksi dan produktivitas jagung pada lahan kering perlu perbaikan sistem pola tanam dan pengelolaan tanaman yang tepat sesuai dengan kondisi lingkungan, sehingga kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak di Sumatera Barat tidak selalu bergantung pada daerah lain di luar Sumatera Barat.
Penggunaan varietas unggul
Diantara komponen teknologi produksi jagung, penggunaan varietas unggul mempunyai peranan penting dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas jagung serta diimbangi dengan teknik budidaya jagung yang tepat sesuai dengan kondisi lingkungan. Di Koto Baru Simalanggan Kabupaten 50 Kota pada tingkat petani sudah berkembang beberapa varietas jagung unggul hibrida dan komposit, namun hasil yang dicapai oleh masing-masing varietas belum maksimal.
Rendahnya hasil yang dicapai oleh masing-masing varietas disebabkan oleh beberapa faktor seperti: (a) populasi tanaman persatuan masih rendah, penanaman dilakukan dengan jarak tanam yang lebih jarang yaitu 1,25x40 cm, 2 batang/rumpun (40.000 tanaman/ha) sedangkan jarak yang tepat adalah 80x40 cm, 2 batang/rumpun (62.500 tanaman/ha); (b) lahan sudah ditanami dengan beberapa jenis tanaman tahunan seperti kelapa, kakao dan pisang, hal ini menyebabkan pemanfaatan lahan untuk bertanam jagung sudah semakin berkurang dan persaingan antar tanaman sudah semakin berat; (c) pengelolaan tanaman masih kurang, terutama dalam pengaturan sistem jarak tanam dan pemakaian pupuk yang diberikan masih dibawah takaran rekomendasi dan waktu pemberian terlambat dari waktu yang sebenarnya.
Takaran pupuk yang diberikan untuk tanaman jagung adalah 250 kg Urea + 100 kg KCL + 2,5 t pukan/ha. Walaupun jagung yang ditanam varietas unggul tetapi bila pengelolaannya kurang baik, hasil yang maksimal akan sulit tercapai. Dari hasil pengamatan langsung dilapangan terlihat bahwa rata-rata hasil yang dicapai oleh beberapa varietas jagung pada tingkat petani masih rendah yaitu sekitar 4,43-6,33 t/ha (Prima Tani Kabupaten 50 Kota, 2007). Hal ini sangat berpeluang untuk ditingkatkan melalui pengelolaan tanaman yang lebih baik serta dengan penanaman varietas jagung yang unggul yang beradaptasi baik dengan kondisi lingkungan.
Teknik Budidaya
Pada lahan yang selalu ditanami jagung disepanjang musim tanam, teknik budidaya yang paling tepat adalah sistem TOT (Tanpa Olah Tanah), karena sistem ini dapat menghemat tenaga, biaya dan waktu serta dapat meningkatkan intensitas tanam
Persiapan lahan dilakukan dengan penyemprotan herbisida 10-15 hari sebelum panen, di saat panen gulma sudah mulai kering. Setelah panen, batang jagung dipotong dan disusun sejajar dengan tanaman sebelumnya. Kemudian lobang tanaman dibuat disamping bumbun tanaman sebelumnya dengan Jarak antar lobang tanam mengikuti rekomendasi yaitu 80x40 cm, 2 benih/lobang atau 80x20 cm, 1 benih/lobang.
Pemberian pupuk sesuai rekomendasi seluruh takaran pupuk kandang (pukan), SP36, 1/3 takaran Uea dan KCL diberikan waktu  tanam dan sisanya 30 HST (Hari Setelah Tanam). Takaran pupuk yang diberikan bisa berubah-rubah, sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan varietas yang ditanam. Untuk jagung hibrida, takaran pupuk yang dipakai 300 kg Urea + 150 kg SP36 + 100 kg KCL + 2,5 t pukan.
Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di Lubuk Alung Padang Pariaman terlihat bahwa, budidaya jagung dengan sistem TOT dapat memberikan hasil yang lebih tinggi dari sistem Olah Tanah Sempurna (OTS). Rendahnya hasil dengan budidaya OTS antara lain disebabkan, dengan OTS kehilangan air tanah melalui evaporasi lebih tinggi dan penundaan waktu tanam sering menyebabkan tanaman terdesak pada kondisi yang lebih jelek terjadi pembalikan tanah sehingga kondisi menguntungkan biji-biji gulma lebih cepat berkecambah dari benih jagung, sehingga persaingan tanaman dan gulma pada stadia awal lebih berat  terutama dalam pengambilan air dan unsur hara keadaan akan berdampak terhadap penurunan hasil.
Pengendalian gulma dan pembumbunan dilakukan secara bersamaan terutama pada budidaya jagung sistem TOT, karena lahan Pembumbunan bertujuan untuk memperbaiki kondisi diantara barisan tanaman, membenamkan sisa-sisa tanaman sehingga membentuk kompos, memperkokoh berdirinya tanaman dan memperbaiki aerasi tanah. Sedangkan pengendalian hama dan penyakit pada saat tanaman jagung hanya dilakukan pada saat tanam. Pengendalian hama dengan pemberian Curater 3G (17 kg/ha). Pengendalian penyakit dengan perlakuan benih (seed treatment), yaitu dengan pemberian saromil (3,5-5 g/kg). Pengendalian hama dan penyakit selanjutnya tergantung intensitas serangan.
Sistem Pola Tanam
Pada lahan kering (tegalan) kebutuhan air dari tanaman bersumber dari curah hujan dan residu air tanah, sehingga penetapan waktu tanam sangat tergantung pada curah  hujan. Bila curah hujan cukup sepanjang musim penanaman jagung dilahan kering dapat dilakukan dua sampai tiga kali dalam setahun.
a.    Pertanaman Secara Monokultur
Pertanaman jagung secara monokultur sudah lama dilakukan petani di daerah-daerah sentra produksi jagung di Sumatera Barat dan penanaman dilakukan disepanjang musim tanpa diselingi dengan komoditas lain (pergiliran tanaman).
b.    Intercropping dengan Tanaman Tahunan
Dewasa ini penanaman jagung dengan pola monokultur sudah mulai berkurang karena sudah banyak yang intercropping dengan komoditas tanaman tahunan seperti sawit, kakao dan pisang. Bahkan pada suatu areal pertanaman jagung sudah ditanami dengan beranekaragam tanaman tahunan. Di areal  Prima Tani koto Baru Simalanggang Kabupaten 50 Kota terdapat beberapa jenis tanaman tahunan seperti kelapa, kakao, pisang, rambutan dan durian. Pada areal tersebut penanaman jagung tetap dilakukan sepanjang musim tanam selagi faktor iklim dan lingkungan masih mendukung. Pola semacam ini hanya dapat bertahan sampai tajuk tanaman tahunan sudah mulai mencapai permukaan tanah.
Dari hasil pengamatan langsung di lapangan terlihat bahwa rata-rata beberapa varietas jagung yang ditanam dengan sistem pola tanam campuran, pisang, kakao dan kelapa masih berkisar antara 3,12 sampai 3,88 t/ha. Hasil tertinggi dicapai oleh jagung hibrida Pioneir 12 (3,89 t/ha) yang berarti  masing-masing varietas dapat memberikan hasil diatas 3 t/ha. Hasil yang terendah ini antara lain disebabkan proporsi sudah semakin sempit sehingga populasi tanaman persatuan tidak optimal ditambah lagi persaingan antar tanaman sudah semakin berat, terutama dalam pengambilan unsur hara, air, cahaya dan tata ruang.
c.    Penanaman Jagung Sebagai Tanam Sela di Gawang Kelapa
Penanaman jagung sebagai sela dilakukan pada gawang kelapa yang berumur lanjut  (≥ 45 tahun), karena pada tanaman kelapa yang sudah berumur lanjut batangnya sudah tinggi dan bentangan tajuk sudah mulai pendek, sehingga cahaya matahari yang sampai ke permukaan tanah masih tidak banyak pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman jagung.
Penanaman beberapa varietas jagung pada gawang kelapa masih dapat memberikan hasil sekitar 2,94-4,01 t/ha. Sedangkan pada lahan terbuka sekitar 5,60-7,40. Rendahnya hasil jagung yang ditanam pada gawang kelapa disebabkan oleh populasi tanaman per satuan luas rendah akibat sebagian lahan sudah dimanfaatkan oleh tanaman kelapa. Bentangan akar efektif dari tanaman kelapa yaitu sampai radius 2 meter dari pangkal batang. Berarti tiap pohon kelapa memanfaatkan lahan seluas 12,57 m2.Makin tinggi kerapatan pohon kelapa, proporsi lahan yang dapat dimanfaatkan jagung semakin sempit. Walaupun demikian pemanfaatan lahan pada gawang kelapa dengan penanaman jagung, secara ekonomis lebih menguntungkan dan dapat memberikan pendapatan tambahan bagi petani.(Ridwan)
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com