Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Sinar Tani
Ulat Bulu
E-Produk
Hasil Lipi
Bank Padi
Layanan Online Alsin
phsl
Kalender Tanam
Info Pasar
Pola Tanaman Padi Dan Jagung Pada Lahan Sawah Tadah Hujan PDF Cetak E-mail
Lahan sawah tadah hujan merupakan sumber daya fisik yang potensial untuk pengembangan pertanian, seperti padi, palawija dan tanaman holtikultura. Di Sumatera Barat luas areal sawah tadah hujan tercatat seluas 53,724 ha yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota (BPS Sumbar, 2007). Daerah yang mempunyai areal sawah tadah hujan yang luas adalah Kabupaten Pesisir Selatan 11.484 ha (21,4%), Lima Puluh Kota 8.144 ha (15,2%), Tanah Datar 5.878 ha (10,9%), Sijunjung 5.829 ha (10,8%), Pasaman Barat 4.890 ha (9,1%) dan Padang Pariaman 4.522 ha (8,4%).
Pada umumnya lahan sawah tadah hujan ini hanya ditanami padi sekali dalam setahun yaitu pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau sebagian diantaranya mengalami bera sampai pada musim tanam berikutnya. Bahkan pada beberapa daerah atau lokasi, lahan tidur akibat keterbatasan air dan pengolahan yang tidak benar. Lahan yang seperti ini banyak dimanfaatkan sebagai areal penggembalaan ternak.
Di Sumatera Barat umumnya perbedaan musim hujan dan kemarau tidak tegas, pada musim kemarau curah hujan masih dapat mendukung pertumbuhan tanaman untuk berproduksi. Karena periode bulan-bulan keringnya relatif pendek (2-4 bulan), termasuk tipe iklim B2 dan C2. Kondisi ini masih memungkinkan untuk bertanam palawija sesudah padi seperti jagung, dan yang beresiko tinggi untuk bertanam lebih dari satu kali dalam setahun adalah daerah-daerah yang bertipe iklim D dan E dengan bulan-bulan basah yang panjang penanaman jagung sesudah padi, di lahan sawah tadah hujan dapat dilaksanakan pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau.
Pemanfaatan lahan sawah tadah hujan dengan budidaya jagung bertujuan untuk meningkatkan indeks pertanaman dan meningkatkan pendapatan petani. Dengan tidak hanya tergantung pada padi. Dengan penerapan pola tanaman padi sawah yang diikuti jagung diharapkan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar. Penelitian bertujuan untuk meningkatkan produksi padi dan jagung melalui perbaikan teknologi budidaya dan melihat besarnya keuntungan yang diberikan oleh tanaman jagung sesudah padi.
Penelitian dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan Nagari Surantih Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat MT 2005/2006. Pada musim hujan dilaksanakan penanaman 2 varietas padi sawah (IR42 dan Batang Lembang), kedua varietas ditanam pada hamparan yang berbeda dengan perlakuan yang sama, yaitu teknologi introduksi. Pengolahan tanah dilakukan secara intensif, dibajak 2 kali dan digaru 1 kali sebelum tanam, bibit dipindahkan ke lapangan umur 20 hari, jarak tanam 20x20 cm. Pupuk diberikan dengan takaran Urea 150 kg/ha, SP36 100 kg/ha dan KCL 50 kg/ha. Penyiangan 2 kali yaitu 20 dan 42 hst dan pengendalian hama dan penyakit berdasarkan pematauan dilapangan. Data yang diamati yaitu hasil gabah (GKP/ha) yang diamati dari 10 sampel dari masing-masing varietas.
Pada MK (musim kemarau) dilanjutkan dengan penanaman jagung, disetiap hamparan ditanam 2 varietas jagung komposit (Bisma dan Sukmaraga)  dengan sistem TOT (Tanpa Olah Tanah). Persiapan lahan dengan penyemprotan herbisida Round Up (3 l/ha), kemudian pembuatan lubang tanam 80x40 cm. Benih ditanam 2 biji/lobang. Sebelum tanam, benih diberi Saromil (3,5 g/kg benih) guna pencegahan hama lalat bibit atau penggerek batang. Pupuk diberkan dengan takaran Urea 250 kg/ha, SP36 1 kg/ha, urea 250 kg/ha, SP 36 100 g/ha, KCL 100 kg/ha dan pupuk kandang 2 t/ha. Seluruh pupuk kandang, SP 36, dan 1/3 takaran Urea dan KCL diberikan waktu tanam dan sisanya diberikan pada umur 30 HST bersamaan dengan pembubunan. Panen dilakukan berdasarkan kriteria masak panen yang ditandai dengan kelobot sudah kering dan biji sudah keras. Data yang diamati terdiri dari pertumbuhan tanaman, komponen hasil dan hasil serta analisa biaya.
Dari hasil pengamatan terlihat bahwa rata-rata hasil varietas IR42 3,87 t/ha dengan kisaran 3,32-4,55 t/ha dan varietas Batang Lembang 4,31 t/ha dengan kisaran 3,70-5,60 t/ha. Rata-rata hasil yang dicapai pada kedua varietas masih tergolong rendah dan bervariasi antar lokasi. Walaupun demikian hasil yang dicapai baru sekitar 2,50 t/ha. Masih rendahnya hasil yang dicapai berkaitan dengan ketersediaan air selama pertumbuhan tanaman disamping pengelolaan tanaman  yang belum intensif, terutama sekali pemberian pupuk. Pemberian pupuk yang dilakukan petani masih dibawah dosis anjuran. Padi varietas IR42 sudah lama diusahakan oleh petani di Surantih Pesisir Selatan, tetapi hasil yang dicapai belum optimal, sedangkan pada lokasi yang mendapat air irigasi yang teratur varietas ini dapat memberikan hasil >5,0 t/ha dan penanaman dapat dilakukan 2 kali dalam setahun. Sedangkan di lahan sawah tadah hujan Surantih penanaman padi hanya dilakukan sekali dalam setahun.
Padi varietas Batang Lembang dapat memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan varietas IR42 di lahan sawah tadah hujan Surantih (>5,0 t/ha). Baik varietas IR42 maupun Batang Lembang dengan pengelolaan yang lebih baik, kemungkinan dapat memberikan hasil yang lebih baik. Di lahan sawah irigasi di Surantih varietas Batang Lembang dapat memberikan hasil diatas 6,0 t/ha.
Penanaman jagung sesudah padi varietas IR42, jagung varietas Bisma dapat memberikan sebesar 6,85 t/ha dan varietas Sukmaraga sebesar 7,31 t/ha. Hal yang sama juga terlihat pada penanaman jagung setelah padi varietas Batang Lembang. Jagung varietas Bisma dan Sukmaraga masing-masing dapat memberikan hasil sebesar 6,82 dan 6,90 t/ha. Hal ini menunjukkan bahwa jagung varietas Sukmaraga berpotensi dikembangkan pada lahan sawah tadah hujan, karena dapat memberikan hasil dari kedua varietas ini disebabkan faktor genetik dan adaptasi tanaman terhadap lingkungan juga berbeda. Secara umum penenaman jagung sesudah padi pada lahan sawah tadah hujan dapat meningkatkan IP dari 100 menjadi 200.
Penanaman jagung sesudah padi di lahan sawah tadah hujan Surantih Kabupaten Pesisir Selatan dapat meningkatkan pendapatan petani. Jagung varietas Bisma dengan hasil rata-rata sebesar 6,84 t/ha memberikan keuntungan Rp.6.537.920,-/ha. Penempatan jagung dalam sistem pola tanam dilahan sawah tadah hujan dapat memberikan pendapatan tambahan bagi petani, dan pendapatan petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Tinggi atau rendahnya keuntungan yang diperoleh dari usahatani jagung sangat bergantung pada pengelolaan tanaman dan harga pasaran jagung; kemungkinan keuntungan yang diperoleh lebih besar bila harga jagung cukup tinggi.(Ade Subarna dan Ridwan).
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com