Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Ulat Bulu
E-Produk
Hasil Lipi
Bank Padi
Layanan Online Alsin
phsl
Kalender Tanam
Info Pasar
Sinar Tani
Pengaruh Waktu Pemotongan Bagian Tanaman Di Atas Tongkol (Topping) Pada Tanaman Jagung PDF Cetak E-mail
Jagung (Zea mays L.) merupakan sumber karbohidrat  kedua setelah beras. Selain itu, jagung juga digunakan sebagai bahan makanan ternak (pakan) dan bahan baku untuk mendukung perkembangan industri di Indonesia. Kebutuhan dan konsumsi jagung di Indonesia terus meningkat seiring dengan meningkatnya industri yang menggunakan jagung sebagai bahan baku.
Untuk pakan ternak, tanaman jagung dimanfaatkan dalam bentuk biji dan limbah tanaman (daun dan batang). Tanaman jagung manghasilkan limbah berupa daun dan batang yang cukup melimpah saat musim panen. Limbah ini berpotensi sebagai pakan ternak terutama pada musim panen dan atau sebagai stok saat musim kemarau. Pakan tersebut oleh ternak dapat ditransformasi menjadi pangan yang bermutu tinggi berupa daging dan susu. Penggunaan jagung untuk pakan ternak dalam beberapa tahun terakhir meningkat secara signifikan dengan laju kenaikan 12% per tahun. Sebelum tahun 1975, jagung yang digunakan untuk pakan ternak hanya 15% dan saat  ini telah mencapai 60% lebih. Untuk memenuhi  kebutuhan jagung, pemerintah melakukan impor yang terus meningkat dari tahun ke tahun (Badan Litbang Pertanian, 2002).
Ditingkat petani, budidaya tanaman jagung sangat bervariasi. Pada saat tanaman jagung menjelang masa penuaan (senescence), tanaman dibiarkan tua sampai menjelang panen, tetapi ada pula yang melakukan perompesan (defoliasi) di bawah tongkol dan topping (memotong bagian tanaman jagung diatas tongkol, berupa daun dan batang). Perlakuan defoliasi dan topping ini dapat mengurangi hasil panen jika dilakukan secara sembarangan tanpa memperhatikan fase-fase pertumbuhan tenaman secara tepat.
Perompesan daun dibawah tongkol dilakukan untuk mengefisienkan proses fotosintetis yang terjadi pada daun tua yang menyebabkan terjadinya kelembaban, juga dimaksudkan untuk menekan terjadinya persaingan internal dan asimilasi. Asimilasi yang diproduksi oleh daun akan didistribusikan ke seluruh bagian tanaman yang membutuhkannya. Keberadaan daun dapat membantu kelancaran asimilat, namun dapat pula menjadi pengguna hasil asimilat.
Perompesan daun untuk keperluan pakan dapat dilakukan menjelang panen dengan ciri-ciri seluruh biji sudah sempurna terbentuk, embrio sudah masak, dan pengisian bahan kering dalam biji akan segera berhenti. Selain itu dapat pula dilakukan selama masa vegetatif tanaman dengan memperhatikan nilai LAB (Laju Asimilasi Bersih). Perlakuan ini dapat menekan serangan penyakit daun seperti karat (Shouthern Rust) dan hawar daun Helminthosporium yang sering menyerang tanaman jagung mulai dari daun paling bawah. Sedangkan topping biasanya dilakukan menjelang jagung dipanen, sehingga lahan di bawah jagung tua dapat segera ditanami dengan tanaman jagung lagi atau tanaman polong-polongan. Tujuannya adalah supaya sinar matahari dapat menyinari tanaman yang baru ditanam sehingga tanaman dapat tumbuh baik tanpa kekurangan radiasi matahari. Dengan demikian masa tanam untuk tanaman susulan  dapat dipercepat. Selain itu, hasil brangkasan daun ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Topping ini dapat mempercepat masa panen 5-7 hari. Namun demikian, erompesan (defoliasi) dan toping yang tidak tepat waktu dapat mengurangi hasil sekitar 15-20% .
Berdasarkan hal diatas, maka dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pemotongan bagian tanaman diatas tongkol (topping) pada tanaman jagung komposit varietas Sukmaraga.
Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP) Rambatan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada bulan Maret sampai Juli 2007. Jenis tanah lokasi penelitian adalah Grumosol (Inceptisol) dengan tipe  iklim C dan ketinggian tempat 525 m di atas permukaan laut. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan ulangan sebanyak empat kali. Perlakuannya adalah enam waktu pemotongan bagian tanaman diatas tongkol (topping) (hari setelah tanam, HST), yaitu (a) 60 HST, (b) 65 HST, (c) 70 HST, (d) 75 HST, (e) 80 HST, dan tanpa toping sebagai kontrol. Waktu topping ini dilakukan setelah terjadi proses persarian. Topping dilakukan terhadap bagian tanaman yang terletak diatas tongkol tertinggi, sekaligus dilakukan pemotongan daun (perompesan).
Persiapan lahan dilakukan dengan cara rumput dan sisa-sisa tanaman ditebas dan dibuang keluar petakan, lalu tanah diolah dengan menggunakan cangkul kemudian dibuat lubang tanam. Jagung yang ditanam adalah varietas Sukmaraga pada jarak tanam 80x40 cm dengan cara tugal sebanyak 2 biji/lubang. Pupuk buatan diberikan sebanyak 200 kg Urea + 150 kg SP-36 + 50 kg KCL/ha. Seluruh pupuk SP-36, ½ bagian Urea, dan 1/3 KCL diberikan pada waktu tanam. Sebelum tanam, pupuk urea, SP-36, dan KCL diaduk dengan pupuk kandang sesuai takaran, lalu ditempatkan pada lubang tanam. Sisa pupuk Urea dan KCL diberikan umur 30 hari setelah tanam (hst) bersamaan dengan pembumbunan. Pupuk susulan diberikan dengan jarak sekitar 5 cm dari barisan tanaman.
Pengendalian hama dan penyakit dimulai dari saat tanam. Untuk mencegah penyakit bulai, benih yang akan ditanam diberi fungisida Rhidomil sebanyak 3,5 g/kg benih, sedangkan untuk mencagah serangan hama lalat bibit, benih yang akan ditanam juga diberi insektisida Marshal sebanyak 2,5 g/kg benih. Cara pemberiannya yaitu benih jagung terlebih dahulu dibasahi air lalu dimasukkan Rhidomil dan Marshall, kemudian diaduk merata. Pemberantasan hama dan penyakit lainnya dilakukan tergantung dengan tingkat serangan/kerusakan tanaman.

Pengamatan dilakukan terhadap panjang tongkol, lingkaran tongkol, jumlah baris biji/tongkol, jumlah biji/baris, berat basah tongkol berkelobot, berat tongkol kupasan basah, dan berat pipilan kering (t/ha).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan waktu topping berpengaruh nyata terhadap komponen hasil jagung komposit varietas Sukmaraga, seperti:panjang tongkol, lingkaran tongkol, jumlah baris per tongkol, dan jumlah biji per baris. Terlihat, perlakuan tanpa toping memberikan tongkol terpanjang (15,3 cm) yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, lingkaran tongkol terbesar (13,62 cm) yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan waktu toping umur 80 HST, dan jumlah biji perbaris terbanyak (33,00 butir) yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan waktu topping umur 75 dan 80 HST.
Dapat dibuktikan bahwa perlakuan  waktu topping sampai umur 80 HST dapat menurunkan nilai komponen hasil jagung komposit varietas Sukmaraga. Hal ini disebabkan karena waktu topping dilakukan pada waktu yang tidak tepat. Apabila topping dilaksanakan pada saat tanaman jagung stadia 7 (masak susu, dengan ciri-ciri biji berkembang dengan cepat) menyebabkan pembelahan sel pada lapisan epidermis akan berhenti. Sedangkan bila dilakukan pada stadia 8 (pembentukan biji, dengan ciri-ciri beberapa biji mulai sempurna terbentuk) akan mengurangi nilai komponen hasil. Sementara itu, waktu topping yang tepat adalah  pada stadia 10 (biji telah masak fisiologis, dengan ciri-ciri akumulasi bahan kering sudah berhenti, kadar air dalam biji menurun, dan kelobot luar sudah mulai mengering). Pada penelitian ini, perlakuan waktu topping pada stadia di bawah 10 sehingga nilai komponen hasil terlihat menurun, sedangkan masak fisiologis jagung komposit varietas Sukmaraga berkisar 105-110 HST.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perlakuan waktu topping berpengaruh nyata terhadap hasil jagung komposit varietas Sukmaraga, baik berupa berat basah tongkol berkelobot, berat tongkol kupasan basah, maupun berat pipilan kering. Perlakuan tanpa topping memberikan berat basah tongkol berkelobot terberat (9,72 t/ha) yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, berat tongkol kupasan  basah terberat (8,83 t/ha) yang tidak berbeda nyata dengan  perlakuan topping umur 80 HST, dan berat pipilan kering terberat (6,11 t/ha) yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa waktu topping yang tidak tepat dapat menurunkan berat pipilan kering sekitar 14,9-55,5%.

Perbedaan hasil jagung komposit varietas Sukmaraga disebabkan oleh pengaruh komponen hasil.  Dalam penelitian ini terlihat bahwa  panjang tongkol, jumlah baris per tongkol, dan jumlah biji perbaris berkorelasi positif sangat nyata dengan berat pipilan kering (nilai r berturut-turut 0,88; 0,89 dan 0,87). Sedangkan lingkaran tongkol berkorelasi positif tidak nyata dengan berat pipilan kering (r=0,73). Artinya, makin panjang tongkol, atau makin banyak  jumlah perbaris per tongkol, atau makin banyak jumlah biji per baris maka berat pipilan kering meningkat sangat nyata, sedangkan makin besar lingkaran tongkol maka berat pipilan kering meningkat tidak nyata. Hasil yang hampir sama juga ditemukan pada penelitian Atman (2006) dimana komponen hasil yang berkorelasi positif sangat nyata dengan berat pipilan kering jagung komposit varietas Bisma adalah panjang tongkol dan jumlah biji per baris, sedangkan lingkaran tongkol dan jumlah baris per tongkol berkorelasi positif tidak nyata. (Atman)

 

 

 

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com